Home / Hukrim / Keluarga Korban Desak Polres Tobasa Tangkap Penganiaya Kakek di Ajibata
Korban kepala dibalut perban Manggolom Tua Sirait Kakek 74 korban penganiayaan, dan Batara Sirait foto inzet sebelah kanan anak Korban memberi keterangan terhadap Wartawan

Keluarga Korban Desak Polres Tobasa Tangkap Penganiaya Kakek di Ajibata

‘PENGANIAYA KORBAN MASIH BERKELIARAN, KUARGA AKAN MENGADU KE-KAPOLRI’

AJIBATA, {DETEKTIFNEWS.com}- Seorang Kakek 74, (lansia) yang menjadi korban penganiayaan karena memprotes limbah cafe yang mengalir ke rumahnya. Karena penganiayaan ini keluarga korban MS mendesak Polres Tobasa untuk segera menangkap para pelaku yaitu RS, mantan anggota DPRD Toba Samosir, bersama HS dan CS. “Para penganiaya itu masih berkeliaran alias belum dtangkap” ungkap Batara Sirait Anak Korban MS saat dikonfirmasi Detektifnews.com melalui WA, Minggu (11/8/2019

Kata Batara, Kami mendesak kepada polisi dalam hal ini Polres Tobasa untuk menangkap para pelaku ini, jangan terksan tebang pilih. Ini sudah mau dua minggu kasusnya, buktikan bahwa polisi itu promoter atau profesional, modern dan terpercaya seperti diharapkan Bapak Kapolri.

Batara menyatakan, penganiayaan yang dilakukan oleh para pelaku ini sudah sangat keterlaluan dan melukai rasa keadilan, apalagi terjadi di depan banyak orang bahkan di depan Camat Ajibata Tigor Sirait yang hanya menonton saja tanpa mau melerai ketika sorang tua dilukai sampai berdarah-darah.

Ada banyak saksi. Hukum harus tegak, harus adil, tak perduli apakah pelakunya mantan pejabat, orang hebat atau apa. “Integritas polisi tidak bisa bisa dibeli dengan uang,” tegas Batara mengingatkan massa akan berhadapan dengan Polres Tobasa jika bersikap tidak adil.

Dia juga mempertanyakan mengapa polisi terkesan lambat bergerak dalam kasus ini. Bahkan membiarkan logika hukum diputar balik dengan justru membidik PS, menantu dari korban MS, dengan ancaman tindak pidana Pengancaman.

“Ini kan aneh, bukannya menangkap pelaku yaitu RS, HS dan CS, malah membiarkan menantu PS dituduh mengancam pelaku. Lho logikanya kalau orang tuamu dianiaya, kalian pasti membela kan, bisa dengan kata-kata untuk mencegah penganiayaan lebih parah. Itu bukan pengancaman. Sekarang fokus saja ke pelaku, tangkap mereka, itu rakyat akan merasa diayomi oleh polisi, ucapnya.

Sebagai warga negara, kata Batara, jika penegakan hukum ini tidak adil dan terkesan memihak kepada pelaku, maka pihaknya akan memperjuangkan keadilan , termasuk dengan mengadukan masalah ini ke Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kompolnas, Komnas HAM dan lainnya.
Sebelumnya, kakek MS dianiaya di rumahnya Jalan Justin Sirait No 12, Kelurahan Parsaoran, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) ada Selasa (30/7/2019) sekitar pukul 17.45 WIB.

Penganiayaan itu bermula karena sang kakek menegur limbah dari cafe milik para pelaku yang mengotori pekarangan rumah RS. Limbah cafe itu sudah berulangkali dilaporkan termasuk ke camat, namun tidak direspon cepat. Debat sempat juga terjadi antara MS dengan boru Panjaitan, ibu dari RS terkait status tanah tempat Cafe Naborsahan itu. RS, HS dan CS kemudian mendatangi rumah dan sekaligus warung milik RS yang lokasinya bersebelahan, membuat keributan, merusak perlengkapan yang ada di warung korban seperti membalikkan meja, mengeroyok korban, sehingga pelanggan yang saat itu sedang makan di warung korban kaget dan berhamburan keluar.

Sejumlah saksi melihat di situ juga ada Camat Ajibata Tigor Sirait tapi hanya menonton saja tanpa mau melerai. Seharusnya, camat cepat merespon pengaduan masyarakat soal limbah sampah dari cafe itu, dan mendegah terjadinya aksi kekerasan.

Korban MS yang mengalami luka robek di kepala bagian belakang sebelah kiri sehingga harus dilarikan ke UGD Parapat guna melakukan perawatan medis. Tak terima dengan perlakuan ini, keesokan harinya Rabu (31/7/2019) pukul 10.00 WIB korban bersama keluarga mendatangi Mapolsek Lumbanjulu untuk melakukan pelaporan, dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) No. 16/VII/2019.

Surat penerimaan laporan dari Polisi

Dalam perkara ini, pihak Polsek Lumban Julu sudah menerima laporan beserta barang bukti berupa satu buah kursi plastik warna hijau, satu potong jaket lengan panjang warna abu-abu yang ada bercak darah yang disaksikan oleh S Sinukaban, R Sidabutar, dan Manurung selaku anggota Poksek Lumban Julu hari Kamis (1/8/2019) yang diterima IM.Sidabutar selaku Penyidik Pembantu, terang Batara.

MS sendiri kepada wartawan mengatakan, masih trauma dengan kejadian itu. Dia tidak menyangka dikeroyok tiga orang. Dia hingga kini masih sesak nafas, kepala luka-luka, dan merasa terancam jiwanya.

Saya berharap kepada pihak Kepolisian agar pelaku pengeroyokan dan penganiayaan yang saya alami agar secepatnya ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di NKRI tanpa memandang status siapa dia, harap korban MS.

Dalam hal penganiayaan yang dilakukan terhadap korban MS kakek berusia 74 ini, samapai berita terexpos pihak penyidik Polres Tobasa belum berhasil dihubungi, Minggu malam (11/8/2019). {JAcK}

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Kerap ‘Meneror’ Lewat Surat,  LSM KPK Somasi Kantor Hukum  Asep Ruhiat & Partners 

RIAU, {DETEKTIFNEWS.com}-Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Pemberantas Korupsi {KPK) tingkat DPP di Provinsi Riau merasa ...