Home / Berita / Nasional / Bentrok Dua Desa di Buton, 871 Warga Trauma Masih Takut Pulang

Bentrok Dua Desa di Buton, 871 Warga Trauma Masih Takut Pulang

JAKARTA, {DETEKTIFNEWS.com}-Sejumlah warga mengungsi akibat bentrokan dua kampung di Buton, Sulawesi Tenggara mencapai 871 orang. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan ratusan warga trauma.

“871 orang mengungsi, rumah mereka rusak dan secara psikologis takut kejadian tersebut,” terang Dedi di Mabes Polri, Jumat (7/6/2019).

Dedi memastikan hingga saat ini situasi di dua kampung berseteru, Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya sudah kondusif. Sejumlah petinggi aparat masih siaga di lokasi kejadian, mulai dari Kapolda, Danrem, dan Bupati.

“Lokasi nentrok sudah dilokalisir agar kejadian tak terulang,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyebut bentrok antarwarga di daerah tersebut baru pertama kali terjadi. Dedi menyebut kedua daerah relatif bersahabat, tidak pernah ada peristiwa kerusuhan seperti yang terjadi saat ini.

“Tidak pernah ada kejadian seperti itu,” tegasnya.

Kepolisian telah mengantongi identitas provokator dan pelaku pembakaran puluhan rumah. Seperti diketahui, peristiwa pembakaran puluhan rumah itu merupakan ujung dari bentrokan antar warga Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya.

Selain itu, diketahui bentrok warga Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya mengakibatkan dua orang meninggal dan delapan orang lainnya terluka.

Bermula pemicu kerusuhan dari konvoi muda-mudi yang dilakukan di malam takbiran, Selasa (4/6). Sekitar 40 orang Desa Sampuabalo melakukan konvoi dengan 20 motor knalpotracing yang identik dengan bunyi bising.

Di depan permukiman warga, mereka memainkan gas motornya. Hal tersebut pun membuat masyarakat Desa Gunung Jaya terganggu.

Kesalahpahaman warga dua desa berlanjut keesokan harinya atau seusai Shalat Idul Fitri hingga terjadi pembakaran puluhan unit rumah warga setempat.

Kabid Humas Polda Sultra, Ajun Komisaris Besar Herry Goldenhart menjelaskan, salah satu warga yang tewas lantaran disasar busur dan senjata tajam parang.

“Kami imbau warga yang bertikai untuk menahan diri. Kepolisian, TNI serta pemerintah daerah terus berupaya membangun rekonsiliasi demi kepentingan keselamatan dan kenyamanan warga,” imbuhnya. {Red}

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Polres Pematang Siantar Apel Operasi Ketupat

PEMATANG SIANTAR, {DETEKTIFNEWS.com}-Jajaran Polres Pematangsiantar dan instansi terkait apel gelar pasukan Operasi Ketupat Toba 2019 ...