Home / Berita / Headline / Notaris Caroline: Terdakwa Henry Mengaku Tanah Itu Terjual dan Bakal Diganti Aset Lain dan Uang

Notaris Caroline: Terdakwa Henry Mengaku Tanah Itu Terjual dan Bakal Diganti Aset Lain dan Uang

SURABAYA, {DETEKTIFNews}-Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso dari Kejari Surabaya Hadirkan tiga saksi kunci, pada sidang lanjutan perkara penipuan sertifikat tanah seluas 1934 M2 di Claket Malang.Sidang melibatkan terdakwa Henry Jocosity Gunawan, Kamis (5/10/2017). diruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, agenda keterangan saksi.

Tiga saksi itu adalah, notaris Caroline C Kalampung (pelapor), Sumartiningsih dan Rahmawati, keduanya staf yang bekerja di kantor Caroline.

Keterangan Caroline dihadapan Hakim, merasa terjepit dengan adanya somasi yang dikirimkan Sudiman Sidabuke, kuasa hukum Hermanto selaku pemilik SHGB bernomor 66 Claket Malang, yang isinya meminta dirinya mengembalikan SHGB tersebut kepada Hermanto.

“Sudiman Sidabuke meminta saya mengembalikan SHGB dalam waktu tujuh hari setelah somasi diterima. Saya kebingungan, karena SHGB itu dipinjam oleh Yuli Ekawati, karyawannya pak Henry J Gunawan dan sampai sekarang belum dikembalikan. Akhirnya saya melapor ke polisi,” ujar Caroline.

Dia mengisahkan secara detail, proses perpindahan tangan SHGB tersebut dari Hermanto kepada dirinya yang akhirnya berada di pihak Henry. Awalnya, SHGB tersebut atas nama almarhum Sutanto lalu pada 2006 ada transaksi jual beli dengan PT Gala Bumi Perkasa (GBP) yang saat itu direkturnya Raja Sirait.

Pada April 2010, Yuli Ekawati mengaku atas suruhan Henry menelepon Caroline yang menginformasikan bahwa tanah di Claket Malang tersebut mau dijual. Namun oleh Caroline dijawab tidak bisa, karena masih ada pengikatan jual beli dan kuasa jual.

“Saya menjawab SHGB harus dibalik nama atas nama ahli waris terlebih dahulu. Lalu beberapa hari, pak Henry sendiri yang menelepon saya dan mempertanyakan mengapa tanah tersebut tidak bisa dijual dan meminta saya untuk mencarikan cara agar tanah tersbeut bisa dijual. Saat itu pak Henry mengaku membutuhkan uang,” tutur Caroline.

Menindak lanjuti ‘perintah’ Henry tersebut, akhirnya Caroline menawarkan cara untuk mengalihkan kuasa jual atas SHGB tersebut. Hal itu disetujui, akhirnya SHGB tersebut oleh PT GBP dialihkan kuasa jualnya kepada Hermanto. Ada tiga akte atas proses tersebut yang ditandatangani antara Raja Sirait dengan Hermanto, pada 13 April 2010.

“Tiga akte itu bernomor 5,6 dan 7 soal pengalihan kuasa jual. Yang isinya PT GBP mengangkat kuasa yang dimiliki kepada Hermanto dengan nilai sebesar Rp 4,5 miliar,” ujar Caroline.

Selang beberapa lama proses itu berlangsung, Yuli Ekawati kembali menelepon saksi untuk meminjam SHGB yang saat itu dipegang oleh Hermanto. Lagi-lagi, Yuli mengaku diperintah oleh terdakwa. “Alasan Yuli meminjam SHGB untuk pengurusan perpanjangan ijin yang setahun kedepan sudah hampir habis masanya, tepatnya 12 April 2011 ijin SHGB itu habis. Lalu saya membantu Yuli menghubungi Hermanto dan menyampaikan maksud tersebut. Singkat cerita, akhir Mei 2010 Hermanto lalu menitipkan SHGB tersebut kepada saya,” Cerita Caroline.

Setelah SHGB ditangan Caroline, lalu Caroline kembali menghubungi Yuli. Dijawab Yuli, SHGB tersebut bakal diambil pihaknya dengan memerintah Asrori. Lah, setelah SHGB tersebut diambil Asrori dari kantor Caroline, hingga sekarang SHGB tersebut tidak pernah kembali ke Hermanto hingga akhirnya Hermanto melalui PH mengirim somasi kepada Caroline untuk meminta kembali SHGB nya.

“Saat saya tanya keberadaan SHGB tersebut ke Yuli, selalu dijawab masih proses pengurusan. Padahal sesuai pengalaman saya, waktu yang dibutuhkan untuk proses perpanjangan ijin hanya 5-6 bulan sudah selesai. Saya selalu mendesak mempertanyakan keberadaan SHGB tersebut, namun sia-sia, jawabannya selalu sama,” terang Caroline.

Saat ditanya jaksa, apakah saksi Caroline sempat menayakan hal itu kepada terdakwa. Saksi mengaku tidak pernah. “Maaf, saya takut dimarahi oleh pak Henry kalau sering telpon dan menanyakan hal-hal kecil. Karena saya pernah dimarahi soal itu dan mengalihkan urusan kepada Yuli,” ujar saksi.

Karena takut dilaporkan dan desakan somasi Sudiman Sidabuke yang diterimanya itu, akhirnya pada 2016 saksi nekat untuk mendatangi Henry dikantornya yang terletak di kawasan Putat Surabaya.

“Saat saya datangi, pak Henry mengaku tanah tersebut telah dijual dan bakal diganti aset lain dan sejumlah uang. Namun, hal itu tidak direalisasikan. Akhirnya saya melapor, karena nyawa saya saja tidak cukup untuk menganti aset Hermanto,” tambah saksi.

Sedangkan dua saksi lain, memberikan keterangan bahwa dirinya mengetahui proses peminjaman SHGB tersebut oleh Asrori. Sedangkan sebelumnya, penasehat hukum terdakwa mengatakan tidak ada uang yang diterima dari Hermanto atas status pengalihan kuasa jual tersebut.

Atas perbuatannya, oleh jaksa, terdakwa dijerat pasal 378 tentang penipuan. Terdakwa sempat ditahan pada saat proses pelimpahan tahap II di kantor Kejari Surabaya. Dan dialihkan status penahanannya oleh majelis hakim PN Surabaya, dari tahanan rutan menjadi tahanan kota. Sidang dilanjutkan pekan depan. (B. Sitinjak)

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

x

Check Also

Polda Sumut Tetapkan Jadi Tersangka Pungli Insentif Pegawai Kepala BPKD Pematang Siantar

MEDAN, {DETEKTIFNEWS.com}-Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Utara (Sumut) kembali menetapkan tersangka baru usai ...